
Otong Surotong
Kepala Desa Banuroja
Meningkatkan kualitas pelayanan desa melalui pemanfaatan teknologi digital agar lebih cepat, mudah, dan transparan.
Menguatkan kerukunan dan toleransi antarumat beragama dan antaretnis sebagai identitas utama Desa Banuroja.
Mendorong kemandirian ekonomi masyarakat melalui pemberdayaan UMKM, pertanian, dan potensi lokal.
Meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan, pelatihan, dan pembinaan generasi muda.
Desa Banuroja awalnya merupakan permukiman transmigrasi dari berbagai daerah—Bali, Nusa Tenggara, Gorontalo, dan Jawa—yang kemudian membentuk komunitas baru dengan nama “Banuroja” sebagai akronim dari empat asal tersebut. Wilayah ini dulu termasuk UPT Marisa I Sub B dan sempat bergabung menjadi Desa Manunggal Karya sebelum akhirnya dimekarkan menjadi Desa Banuroja pada tahun 2003 . Sejak awal, Banuroja tumbuh sebagai desa multietnis dan multiagama, dihuni oleh masyarakat Bali, Jawa, Sasak, Gorontalo, dan lainnya, dengan pemeluk Islam, Hindu, dan Kristen hidup berdampingan dengan rukun. Tingkat toleransi yang tinggi membuat Banuroja dikenal sebagai “miniatur Indonesia”, hingga kemudian ditetapkan sebagai Desa Pancasila karena dianggap berhasil mengelola keberagaman dengan damai lebih dari satu dekade tanpa konflik besar .
Kondisi alam dan kualitas tanah di desa Banuroja memberikan peluang untuk pengembangan pertanian dan perkebunan yang beragam sesuai kebutuhan masyarakat.
Lihat Peta DesaLuas Wilayah
450 Ha
Jml. Dusun
4 Dusun
Ketinggian
500 Mdpl
Suhu Rata-rata
24 °C